Alih Kode dan Mixing Code Komunikasi
Generasi Milineal
Sumadi
Dilla
Frirac SultraKini.com - Opini, Pendidikan
24
November 2019
Kita tentu
sepakat bahwa abad milineal ini semua hal mengalami pergeseran dan perubahan
besar dalam kehidupan kita. Tak terkecuali perilaku komunikasi kita pun ikut
berubah. Dunia bergerak begitu cepat, ruang menjadi sempit, waktu seolah
menjadi singkat, jarak menjadi dekat, batas tak bersekat, keputusan harus
tepat, kesibukan makin meningkat dan pilihan cara bertindak (banyak tersedia)
memikat kita.
Seiring itu banyak
fenomena unik, lucu, sinis dan sadis muncul silih berganti dalam masyarakat.
Tanpa disadari, kita menjadi aktor aktif dari pergeseran atau perubahan
perilaku masyarakat yang demikian kompleks. Kini kecepatan dan rekayasa menjadi
ideologi primer kebiasaan masyarakat. Kecepatan dan rekayasa menjadi “ruh’
perubahan setiap aspek kehidupan masyarakat. Tak ada yang luput dari kecepatan
dan rekayasa perubahan tersebut.
Dengan
kecepatan perubahan sulit prediksi, dan sukar untuk dikontrol, dengan rekayasa
konstuksi pikiran terbelah, bangunan konsep, teori atau definisi, termasuk
bahasa melebar bersifat jamak. Akibatnya secara instant bentuk, sifat dan
perilaku masyarakat ikut berubah (bergeser) sebagai residu dari idiologi
kecepatan dan rekayasa teknologi, sosial dan sistem simbol (istilah, frase,
kosa kata, logat, dialeg).
Beberapa
istilah/kosa kata baru yang serupa tapi tak sama bermunculan seperti;
warga-netizen, realitas-hyperialitas, rencana kerja-platform hingga
milisi-melineal. Istilah dan kosa kata tersebut memiliki arti dan maksud
berbeda, namun penggunaanya tumpang tindih dalam komunikasi kita. Akibatnya
kita menjadi akrab dengan hal baru yang terkadang sebagian orang masih sulit
memahaminya. Diantara fenomena perubahan yg muncul itu, menarik dijelaskan
adalah perubahan komunikasi manusia yang dipengaruhi idiologi kecepatan dan
rekayasa.
Fakta di
sekitar kita menunjukkan dimanapun kita, kapan pun kita, fenomena komunikasi unik dan lucu generasi milineal selalu hadir
di depan kita. Keunikan itu terlihat pada eksploitasi sistem simbol komunikasi
(verb, frase, logat, dialeg) kebahasaan atau istilah
baru dalam tutur dan tulisan masyarkat. Banyak kasus komunikasi yang dapat
dikemukakan tentang hal ini. Sebagai contoh pada satu kesempatan ketika ujian
hasil penelitian mahasiswa saya, mahasiswa tersebut (kategori kaum milineal)
mengangkat judul “fenomema alih kode bahasa gaul Jakarta pada penyiar radio
lokal. Sudah jamak terjadi bahwa kebiasaan penyiar radio menggunakan
berbagai istilah, kosa kata, logat/dialeg, sebagai jenis-ragam bahasa mereka
seperti bahasa gaul Jakarta (mungkin juga daerah lain) termasuk kata asing
dalam komunikasi dengan audiensnya secara cepat. Hal ini kemudian terbawa pada
ruang sosial mereka. Banyak kasus ditemukan dan masih terjadi di Indonesia
bahasa tutur dan tulis masyarakat disisipkan berbagai kosa kata dengan logat
yang beragam pada satu kalimat, diklaim bentuk alih code dan mixing code.
Bercampurnya
kosa kata, logat/dialeg dalam satu ragam bahasa menjadi ciri komunikasi
masyarakat saat ini. Pertanyaan yang patut diajukan tentang hal ini, mengapa
demikian? Lalu apakah fenomena tersebut beralasan disebut alih code dan mixing
code?
Secara
praktis tak ada yang salah dan aneh pada fenomena tersebut
karena berhubungan dengan hal kongkrit dan aktual. Namun secara teoritis perlu dijelaskan bahwa klaim alih kode bahasa atau
mixing code dimaksud memiliki klimaks “antitesa” atau kerumitan tersendiri pada
tindakan komunikasi. Hal mana alih kode dan mixing code hanya dipahami sebagai
penggunaan kata, istilah serta dialeg/logat secara manasuka dalam satu kalimat
tertentu. Padahal alih code dan mixing code secara tak beraturan dalam
komunikasi membuka ruang miss-komunikasi makin melebar. Dengan kata lain,
menyisipkan satu kosa kata, frase (asing) atau logat/dialeg pada satu bahasa
yang dipilih dalam percakapan sehari hari berkonsekuensi mempersulit komunikasi
itu sendiri.
Contoh lain
kerumitan percakapan atau komunikasi dapat ditemukan di sekitar kita.
Komunikasi orang tua dan anak di rumah teman sejawat di kantor atau kaum
sosialita di mall-mall. Seketika komunikasi mereka beralih, berubah, beragam,
rumit dan menjadi high conteks akibat penyisipan kata-kata, istilah baru yang
asing bagi orang awam untuk dipahami.
Sejatinya
alih kode bahasa atau mixing code dimaksud berhubungan dengan penggunaan jenis
ragam bahasa, frase atau istilah yang sama dalam satu kalimat serta secara
bergantian beralih ke jenis ragam bahasa lain pada kalimat berikutnya.
Jika
fenomena kerumitan simbol komunikasi dimaksud (alih kode atau mixing code)
tidak diurai maka yang terjadi, publik sulit menemukan makna utuh setiap simbol
tersebut. Keadaan ini semakin memperlihatkan dan membuka mata kita bahwa
kekinian kompleksitas simbol dan makna komunikasi manusia semakin rumit dan
terus berubah. Sampai di sini, simbol bahasa percakapan (tutur) dan tulisan
yang rumit tersebut menjadi stile, gengsi, eksistensi, identitas, serta alat
dominasi peran dalam ruang-ruang publik sehari hari.
Meskipun
kompleksita dan kerumitan makna pada setiap simbol tersebut untuk dipahami bagi
yang kurang akrab dengan sifat milineal, mau tak mau, suka tidak suka, publik
bersikap apatis dengan hal ini. Kemana pun kita berada baik di rumah, jalan,
mall, swalayan, pasar, kedai, sekolah, kampus hingga kantor mata dan telinga
kita selalu akrab dengan fenomena rumit tersebut. Inilah suatu zaman baru Gen
X, Gen Y Dan Gen Z dari perilaku komunikasi milineal yang kompleks.
Pada tahap
ini bahasa dan ragamnya yang acak bukan saja sebagai media komunikasi manusia
tetapi telah berkembang menjadi alat dominasi peran, identitas diri, citra diri
serta penyesuaian diri kaum milineal. Fenomena inilah dapat menjelaskan
pertanyaan di atas, sebagai gejala antitesis “Alih kode” atau “Mixing Code”
dalam literatur kebahasaan. Mackey (2004:84) dan Ohoiwutun (2007:69)
menyebutkan bahwa Alih kode dan Mixing Code akan terjadi jika dalam satu
kalimat percakapan atau komunikasi merujuk pada satu ragam bahasa, dan kalimat
berikutnya menggunakan ragam bahasa tertentu, termasuk bahasa asing sekalipun.
Masyarakat yang demikian disebut penutur dwibahasa atau bilingual.
Berangkat
dari asumsi itu, apa yang tampak dari gejala kerumitan komunikasi milineal
tidak beralasan disebut alih code dan mixing code. Secara etis dan estetis
fenomena komunikasi milineal berlawanan dengan prinsip-prinsip wacana
kebahasaan yang ada.
Bahkan
selain itu penggunaan frase, istilah, kosa kata, logat, dialeg dan ragam bahasa
berbeda yang acak pada satu percakapan (komunikasi) memiliki kerumitan untuk
dipahami bersama. Pada konteks ini terjadi kerancuan arti dan rujukan makna
komunikasi yang melampaui batasan “alih kode dan mixing kode ” sesungguhnya.
Sejatinya kode bahasa dan mixing code untuk mempermudah arti atau makna setiap
simbol yang dikomunikasikan, justru berubah menjadi ambiguitas makna. Ironisnya
hal Ini menjadi trend dan stile komunikasi milineal. Relasi antara sistem
simbol dan maknanya menjadi absurd dan samar samar.
Berhubung
sistem simbol berubah dan berkembang manasuka maka komunikasi manusia melineal
telah mencapai sebagaimana yang disebut Jean Piere Baudrilard, (2015)
kenikmatan komunikasi (ectacy of communication). Artinya sistem simbol yang
dibentuk dan berubah serta proses penggunaan simbol-simbol tersebut menjadi
suatu kenikmatan khusus dalam berkomunikasi. Yang terjadi Komunikasi berkembang
secara instant dengan ketidakberaturan pada kebahasaan, sistem simbol serta
maknanya. Kita pun sadar atau tidak, sengaja atau tidak gejala alih kode atau
mixing code yang rumit ini sulit terhindarkan. Akhirnya semua kita akan selalu
terbiasa berhadapan dengan kerumitan komunikasi yang berubah-ubah dan instant.
Dengan demikian, ideologi kecepatan dan rekayasa pada cara berkomunikasi
manusia dengan tingkat kerumitan dalam percakapan rutin kita mempertegas
hilangnya (kealpaan) standar dan rujukan etis.
Mungkin ada benarnya jika fenomena unik ini memiliki
relasi kuat dan sejajar antara jejaring teknologi, sosial dan sistem simbol
dengan identitas instan. Fase ini kemudian meneguhkan keyakinan kita bahwa
komunikasi abad Ini (milineal) sedang bergerak menuju simulacrum Communication
(Baudrilard) dimana sistem simbol dan makna terbentuk secara instant, cepat,
bersifat sementara, fleksibel, tak berbatas, tiruan dan manipulatif.
Komentar
Posting Komentar